Sejarah dan Macam Rumah Adat Olot Nesan – Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki keragaman budaya, ras, suku bangsa, kepercayaan, agama, dan bahasa. Sesuai semboyang Bhineka Tunggal Ika, maka meskipun memiliki keragaman budaya, Indonesia tetap satu.
Keragaman yang ada di Indonesia adalah kekayaan dan keindahan bangsa Indonesia. Untuk itu pemerintah akan terus mendorong keberagaman tersebut menjadi suatu kekuatan untuk bisa mewujudkan persatuan dan kesatuan nasional menuju indonesia yang lebih baik.
Bekasi merupakan salah satu suku kota di Jakarta yang juga memiliki keberagaman. Hal ini karena masyarakatnya terbentuk dari berbagai macam suku yang ada di Indonesia. Sehingga tak heran, jika masyarakat di sana memiliki toleransi yang sangat tinggi terhadap orang lain.
Hal itu diwujudkan atau tercirikan melalui bangunan rumah adatnya yang kaya makna. Ada banyak hal menarik dari rumah adat Olot Nesan, mulai dari sejarahnya, filosofi bangunan, serta macam-macam bangunannya termasuk rumah adat Olot Nesan.

Sejarah Rumah Adat Olot Nesan
Sejarah merupakan hal penting yang patut dipelajari. Apalagi bagi sejarah keberadaan rumah adat Olot Nesan. Rumah adat Olot Nesan ini juga erat kaitannya dengan keberadaan penduduk bekasi sendiri. Bekasi sendiri berasal dari kata Bhagasasi, yang menjadi julukan kota Bekasi di masa lampau.
Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri adalah sebutan Bekasi tempo dulu sebagai ibukota Kerajaan Tarumanegara (358-669). Luas kerajaan itu mencakup wilayah Bekasi, Sunda Kelapa, Depok, Cibinong, Bogor hingga ke wilayah Sungai Cimanuk di Indramayu Jawa Barat. Menurut para ahli sejarah dan fisiologi, letak Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri sebagai Ibukota Tarumanegara adalah di wilayah Bekasi sekarang.
Dayeuh Sundasembawa inilah daerah asal Maharaja Tarusbawa (669-723 M) pendiri Kerajaan Sunda dan seterusnya menurunkan raja-raja sampai generasi ke -40 yaitu Ratu Ragumulya (1567-1579 M) Raja Sunda Kelapa (Disebut juga Kerajaan Padjajaran) yang terakhir.
Wilayah Bekasi tercatat sebagai daerah yang banyak memberi informasi tentang keberadaan Tatar Sunda pada masa lampau. Diantaranya dengan ditemukannya empat prasasti yang dikenal dengan nama Prasasti Kebantenan. Keempat prasasti ini merupakan keputusan (piteket) dari Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, Jayadewa 1482–1521 M) yang ditulis dalam lima lembar lempeng tembaga.
Sejak abad ke 5 Masehi pada masa Kerajaan Tarumanegara abad ke 8 Kerajaan Galuh dan Kerajaan Padjajaran pada abang ke 14, Bekasi menjadi wilayah kekuasaan karena merupakan salah satu daerah strategis yakni sebagai penghubung antara pelabuhan Sunda Kelapa (Jakarta).
Jika dilihat lagi, rumah adat Olot Nesan ini dipengaruhi oleh adanya akulturasi budaya. Di mana adanya beberapa suku di daerah Bekasi membuat mereka saling melebur. Hasilnya, kita bisa melihat pada arsitektur bangunan rumah adat Olot Nesan yang merupakan percampuran budaya. Terdapat dua budaya yang melebur dalam rumah adatnya, meliputi budaya internasional dan juga lokal. Dari tampilannya, kita bisa melihat bentuk rumah Adat Olot Nesan yang hampir mirip dengan rumah Joglo khas jawa tengah. Lalu kita juga akan melihat beberapa ciri-ciri rumah panggung Sunda di sana. Kemudian, budaya Internasional juga turut terlibat dalam rumah adat Olot Nesani. Ornamen dan hiasan yang dipakai oleh masyarakat Bekasi, seperti pada pembuatan pintu dan jendela mengadopsi dari budaya luar negeri, seperti Arab, Eropa, dan China.

Rumah adat Olot Nesan ini berbeda, Ruang tamu berada di teras depan, Ruang tamu di gunakan untuk tempat berkumpul dan menerima tamu. Teras merupakan bangunan yang paling luas di rumah adat Olot Nesan ini, justru dengan teras yang luas dapat membuat mereka lebih nyaman untuk bersenda gurau bersama.
Di teras biasanya akan ditempatkan kursi bale-bale dari rotan, bambu, atau kayu jati yang disebut dengan amben. Adapun lantai terasnya memakai gejogan, yang menunjukkan penghormatan pada tamu yang datang ke rumah. Bagi masyarakat Bekasi, ternyata gejogan ini cukup sakral. Alasannya karena berhubungan langsung dengan tangga masuk rumah yang diberi nama balaksuji.
Selain itu teras rumah yang luas ini juga memberikan makna bahwa orang rumah atau orang Bekasi sangat terbuka dengan kedatangan tamu. Apalagi orang Bekasi juga dikenal sangat menghargai pluralisme atau perbedaan antar suku maupun agama. Hal ini sangatlah wajar, mengingat sejarah masyarakat Bekasi yang berasal dari perkumpulan beberapa suku di Indonesia.
Ada pula makna lain dari pagar yang dibangun di bagian depan rumah Bekasi. Ternyata ada makna filosofis tertentu dari keberadaan pagar yang mengelilingi rumah di bagian depan. Pagar ini bagi masyarakat diartikan sebagai penghalang hal-hal negatif dari luar yang bisa masuk ke rumah. Jadi diharapkan, dengan adanya pagar, suasana di dalam rumah selalu memiliki aura yang positif. Sebab hal-hal negatif telah dihalangi oleh adanya pagar.
Lalu beberapa masyarakat Bekasi juga membuat sumur di bagian depan rumah dan membuat makam di sebelah rumah. Tradisi membuat makam di samping rumah memang menjadi tradisi lawas masyarakat Bekasi. Maka dari itu, dari dulu masyarakat Bekasi dikenal memiliki lahan dan tanah yang luas.

OLOT NESAN
Bapak Olot Nesan merupakan Generasi ke Lima yang tinggal di rumah adat Karanggan ini, beliau merupakan pribadi yang ramah, baik, berbudi, cerdas dan tampan. beliau yang pada saat penulis berkunjung baru saja ditinggal istri tercinta. adat istiadat yang unik juga tercermin dari ritual yang dilaksanakan ketika keluarga meninggal dunia. Selama 40 hari akan disiapkan sesaji berupa nasi, kemenyan, foto, jam, kopi, teh, air putih, Al Qurán, Yasin, Bantal dan Pelita yang terus menyala. karena mereka percaya Roh orang yang meinggal selama 40 hari masih berada di rumah.

Setiap pembagian ruang yang ada di rumah adat Olot Nesan juga memiliki makna filosofis tersendiri. Berikut adalah karakteristik ruangnya:

- Bagian teras depan rumah, sebagai tempat menerima tamu. Akan selalu dibersihkan setiap hari sebagai penghormatan apabila sewaktu-waktu ada tamu datang. dan juga penuh dengan makanan dan minuman untuk menjamu tamu.
- Paseban atau kamar yang memang dikhususkan untuk tamu yang akan bermalam. Selain untuk tamu, paseban juga kerap dipakai sebagai tempat ibadah.
- Pangkeng atau tempat untuk berkumpul dengan keluarga. Biasanya ada juga di bagian tengah, yang berfungsi untuk berkumpul bersama keluarga.
- Ruang tidur pada rumah Olot Nesan biasanya cukup banyak. Bagian utama yang paling luas akan dikhususkan bagi pemilik rumah
- Srondoyan atau dapur, yaitu tempat luas yang ada di bagian belakang. Tempat ini dijadikan sebagai ruang memasak, juga sekaligus ada tempat untuk makan.

Ciri Khas atau Keunikan Rumah Betawi yang Unik
1. Tidak memiliki kamar mandi yang digabung dengan bangunan utama
Keunikan pertama yaitu tidak adanya kamar mandi pada rumah adat. Masyarakat Bekasi memiliki prinsip-prinsip tertentu yang sudah dipercaya dan dipegang oleh masyarakatnya. Salah satunya yaitu mengatakan, semua kotoran harus disingkirkan dari bangunan utama atau bangunan tempat mereka tinggal.

Hal tersebut dimaksudkan supaya penghuni rumah atau siapa saja yang tinggal di rumah itu tetap bersih baik lahir maupun batin. Maka dari itu, setiap rumah adat Betawi tidak ada yang mempunyai kamar mandi bersatu dengan bangunan utama. Umumnya mereka meletakkan kamar mandi di belakang rumah, terpisah dengan bangunan utama.

2. Menggunakan ukiran dan ornamen yang mempunyai makna
Lalu yang kedua adalah banyaknya ukiran atau ornamen di dalam maupun luar rumah yang mengandung makna. Setiap pajangan pada rumah adat Betawi memiliki makna tersendiri. Selain sebagai hiasan untuk memperindah ruangan, namun ada pula makna yang diharapkan. Berikut adalah arti beberapa ukiran dan ornamen yang biasa ditemui di sana:
- Ukiran bunga melati, yang memiliki arti jika si punya rumah harus mempunyai perasaan dan hati yang harum seperti ketika bunga melati mekar. Hal tersebut disimbolkan melalui ukiran bunga melati, yang memiliki bau harum. Biasanya ukiran ini dipajang di tiang.
- Ukiran bunga matahari, yaitu memiliki arti setiap kehidupan pemilik rumah mesti menjadi inspirasi bagi warga sekitar. Maknanya sebagai penerang, yang bisa menerangi hati dan pikiran anggota keluarga di rumah tersebut. Biasanya ukiran bunga matahari ini dipasang di pintu ruang tamu.

- Ukiran gunungan atau tumpal, yang menjadi lambang kekuatan alam, yaitu semesta atau makrokosmos, manusia atau mikrokosmos, dan alam ghaib atau metakosmos.
- Ukiran lainnya memiliki makna keanggunan, seperti bunga Kim Hong bermakna keuletan, lalu rusa bermakna lincah dan tanggap, serta ada burung merak yang berarti kemegahan.
- Ornamen gigi balang, yang merupakan ornamen dari papan kayu berbentuk segitiga terbalik berjajar. Biasanya ornamen ini dipasang di bawah atap rumah atau di lisplang. Arti dari pajangan ini adalah bahwa masyarakat Betawi harus hidup dalam kejujuran, harus rajin, ulet, serta sabar. Hal tersebut diibaratkan seperti belalang, yang hanya dapat mematahkan tanaman apabila ia ulet, terus menerus bekerja meski membutuhkan waktu yang cukup lama.

3. Memiliki teras yang luas
Seperti yang sudah dijelaskan di atas sebelumnya, rumah adat di sana memiliki teras yang luas. Pendopo atau teras ini biasanya dilengkapi dengan tempat duduk juga amben atau tempat rebahan. Semua itu disiapkan untuk menjamu tamu yang datang. Artinya, masyarakat Betawi memang sangat terbuka dengan berbagai orang baru, dan tidak memandang suku, agama, maupun ras.


