Menurut Malcolm Knowles (seorang figur pendidikan asal Amerika) ketika dewasa, asumsi kita dalam belajar mengarah pada sistem yang mandiri. Kita memiliki konsep diri sebagai pribadi yang tidak ingin bergantung pada orang lain. Ada perasaan bahwa kita tidak lagi ingin dianggap seperti anak kecil yang masih diurusi orang tua atau guru. Itulah tandanya kita pun sudah menganggap diri kita mampu belajar secara mandiri. Unsur pengalaman juga berkaitan erat dengan pemahaman kita saat belajar. Biasanya kita memusatkan pengalaman pada sistem pembelajaran. Semakin sering mengalami sesuatu kita semakin merasa lebih mudah mempelajari satu subyek.

Andragogi merupakan salah satu materi dalam Pendidikan Sekolah Penggerak Angkatan II, dimana Bapak dan ibu guru Komite pembelajar difasilitasi untuk mengembangkan potensi dan bakatnya lewat pendekatan Andragogi
Karena yang perlu kita amati dan dalami ketika dewasa adalah cara kita belajar. Tidak seperti anak-anak di mana materi belajar disiapkan oleh guru atau orang tua, kita dapat belajar secara efektif dengan tiga prinsip utama. Pertama, pelatihan. Kita harus mengingat bahwa semakin sering berlatih, semakin sering mengulang pelajaran, semakin mudah menguasai disiplin tersebut. Kedua, belajar secara berkelanjutan. Maksudnya adalah kita melakukan pembelajaran secara berulang yang kemudian ditingkatkan dari tahap mudah ke sulit. Terakhir, peninjauan. Belajar yang terus menerus akan jauh lebih efektif jika diseimbangkan dengan peninjauan atau review. Kita harus secara kritis meninjau kembali performa belajar. Jujur pada diri sendiri mana yang masih kurang dan yang sudah baik. Kemudian mencari tahu bagaimana meningkatkan kekurangan tersebut.

Jika dilacak dari sisi kesejarahannya, kajian awal andragogi menurut Mustofa Kamil (tanpa tahun) diperkenalkan oleh diantaranya Alexander Kapp (1883), Adam Smith (1919), Eugar Rosentrock (1921), Edward Thorndike (1928), Alan Rogers (1938) dan Harry Overstreet (1949) Tindih silang menyilang argumentasi para pakar inilah yang kemudian oleh Malcom Knowles lebih difokuskan tak hanya dari segi konsep teori tapi sampai pada tahapan implementasi Andragogi itu sendiri.
Lebih lanjut kemudian, Malcom Knowles pada tahun 1970 (dalam Sunhaji, 2013:5) mengembangkan konsep andragogi atas empat asumsi pokok yakni:
- Seseorang tumbuh dan matang dengan konsep diri yang bergerak dari ketergantungan total menuju pengarahan diri sendiri. Atau dapat dikatakan bahwa anak-anak konsep dirinya masih tergantung, sedang pada orang dewasa konsep dirinya sudah mandiri, karena konsep dirinya inilah orang dewasa membutuhkan penghargaan orang lain sebagai manusia yang dapat mengarahkan diri sendiri, apabila dia menghadapi situasi dimana dia tidak memungkinkan dirinya menjadi self directing, maka akan timbul reaksi tidak senang atau menolak.
- Karena sudah matang dengan sejumlah besar pengalaman, maka dirinya menjadi sumber belajar yang kaya sekaligus pada waktu yang sama akan memberikan dia dasar untuk belajar sesuatu yang baru. Oleh karena itu dalam andragogi harus pembelajaran harus mengurangi metode ceramah dan menggantinya dengan metode yang lebih banyak berbuat. Hal ini selaras dengan prinsip pembelajaran umum yang meyakini bahwa belajar dengan berbuat lebih efektif jika dibandingkan dengan belajar yang hanya melihat dan mendengarkan.
- Kesiapaan belajar mereka bukan semata karena paksaan akedemik, tapi karena kebutuhan hidup dan untuk melaksanakan tugas peran sosialnya. Oleh karena itu, orang dewasa belajar karena membutuhkan tingkatan perkembangan mereka yang harus menghadapi perannya apakah sebagai pekerja, orang tua, pemimpin suatu organisasi dan lain-lain.
- Orang dewasa memiliki kecendrungan orientasi belajar pada pemecahan masalah kehidupan (problem centered orientation).
Dari penjabaran asumsi andragogi oleh Knowles diatas, terlihat bahwa asumsi pertama sangat dekat dengan teori hierarki kebutuhan manusia oleh Abraham Maslow bahkan menjadi pucuk tertinggi dalam teori tersebut.
Maslow melukiskan kebutuhan ini sebagai hasrat untuk menjadi diri sepenuh kemampuan sendiri (Goble, 1987). Sementara asumsi kedua jalin menjalin dengan apa yang dikatakan Confucius “aku dengar aku lupa, aku lihat aku ingat, aku kerjakan aku mengerti.”
Dari bangunan empat asumsi pokok andragogi diatas, maka tentunya pembelajaran pada diklat yang menggunakan pendekatan andragogi memerlukan metode-metode pembelajaran yang dapat membiakkan akar tunjang asumsi guna pencapaian tujuan pembelajaran.
Penggunaan metode konvensional verbalistik satu arah seperti ceramah hendaknya dapat diminimalisir dan diganti dengan metode-metode partisifatif yang lebih menitikberatkan keaktifan peserta diklat seperti debat, role play, studi kasus, pembahasan artikel dan lain-lain. Namun penting digarisbawahi tentu saja bahwa pemilih-gunaan metode pembelajaran tetap harus disesuaikan dengan kompetensi tujuan pembelajaran yang umumnya dapat diidentifikasi dengan kata kerja operasional Taksonomi Kognitif Benjamin Bloom seperti “menghafal” untuk C1/Pengetahuan, “menerangkan” untuk C2/Pemahaman sampai kepada “menciptakan” untuk C6/Kreasi.(diklat/andraekaputra)
