Supervisi akademik berbasis coaching merupakan salah satu kegiatan pembimbingan informal secara individual untuk memperbaiki kinerja guru melalui refleksi bagaimana mereka menerapkan suatu keterampilan dan pengetahuan tertentu dalam menangani sasaran kerja yang telah ditetapkan sebelumnya.

Supervisi akademik di sekolah sering diasumsikan sebagai suatu kegiatan observasi atau penilaian terhadap kinerja guru. Sehingga kata supervisi identik menjadi sebuah kegiatan kekurangan guru dan guru merasa terbebani ketika guru tersebut disupervisi.

Coaching merupakan sebuah kegiatan mengantarkan dari satu kondisi menuju kondisi lain yang lebih baik (coache adalah orang yang sudah mahir/ahli tetapi dalam kondisi yang kurang baik sebelum melakukan

kegiatan coaching), coaching meningkatkan kompetensi personal dan profesional, coaching bukan kegiatan memberi tahu, melainkan kegiatan menanya (asking) untuk membangkitkan motivasi (belum mau menjadi mau, belum sadar menjadi sadar). Seorang coach dalam kegiatan coaching menggali dan memotivasi solusi dari masalah yang dialami coachee. Kegiatan coaching diharapkan coachee menemukan solusi dari masalah yang dialami dengan kembali sadar dan tanpa ajakan maupun paksaan dari seorang coach (mandiri).
- Paradigma, Prinsip, Kompetensi Inti Coaching
Agar menjadi seorang coach yang baik seorang guru harus menerapkan dan memiliki pemikiran dalam beberapa hal, diantaranya adalah paradigma berfikir coaching dan prinsip coaching.
- Paradigma berfikir coaching;
- Fokus pada coachee/rekan yang akan dikembangkan,
- Bersikap terbuka dan ingin tahu,
- Memiliki kesadaran diri yang kuat,
- Mampu melihat peluang baru dan masa depan
- Prinsip coaching
- Kemitraan
- Proses kreatif
- Memaksimalkan potensi
